KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nyalah sehingga saya dapat menyusun sebuah ringkasan tentang kebudayaan didua desa yaiu Desa Karanglangu dan Desa Ngombak.
Ringkasan ini saya susun berdasarkan hasil mengambil dari beberapa alamat internet dan juga hasil dari wawancara dari warga Ngombak.
Saya juga menyadari bahwa ringakasan ini jauh dari sempurna.Dan apabila ada kesalahan atau ada kekurangan dari ringkasan yang saya buat ini, saya mohon bimbinganya, oleh sebab itu saya mohon maaf.
Terimakasih
PEMBAHASAN
ASRAH BATIN
Asrah Batin yang dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2008 di dua desa yaitu Desa Karanglangu dan Desa Ngombak,Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah.
Asrah Batin merupakan ritualyang sacral merupakan tradisi turun temurun antara dua desa yaitu Desa Karanglangu dan Desa Ngombak. Budaya saratmakna digelar ratusan warga Desa Karanglangu dan Desa Ngombak. Ritual yang dinamai Asrah Batin, diwarnai arak-arakan seratusan warga Desa Karanglangu,menemui saudara mereka warga Desa Ngombak ditepi sungai Tuntang.Sekedar bias menemui warga Ngombak,arak-arakan warga Karanglangu yang terdiri atas orang tua dan anak-anak,rela berpanas-panasan melintasi kawasan hutan jati dengan sejauh tiga kilometer.
Ritual ini terkait dengan kepercayaan masyarakat terhadap Kedhana – Kedhini, yaitu Raden Sutejo dan Roro Musiah yang merupakan sesepuh kami. Mereka berdua dyakini sebagai pendiri Deasa Karanglangu dan Desa Ngombak. Sebagai saudara tua kami, warga Karanglangu sengaja menemui warga Ngombak untuk mempererat jalinan persaudaraan.
Selaku pemimpin acara, H.Mahfud Kades Ngombak dengan berpakaian jawa lengkap dengan beskap dan keris terselip dipunggung. Dia berdiri ditepi sungai Tuntang, menunggu kedatanga arak-arakan warga Desa Karanglangu yang tengah bersiap menyebrang kebarat.
Busana yang dikenakan tidak terpisah dari kisah awal berdirinya Desa Karanglangu dan Desa Ngombak ratusan tahunlalu. Ditepi sungai,hamper serupa Kades Karanglangu bernama Slamet Agus SH. Yang tengah siap menyebrang dan juga mengenakan pakaian adat jawa diikuti rombongan warga. Khusus Kades Karanglangu,telah disiapkan Joli(Tandu) agar tidak basah ketika menyebrang sungai.
Joli(Tandu) diangkat oleh belasan pemuda warga Desa Ngombak berotot kekar kemudian Joli menuju ketepian sungai sebelah barat.Kades dari Desa Ngombak yaitu H.Mahfud didampingi Camat Tatang Wahyu dan ratusan warga Ngombak menyambut kedatangan Joli berisi Kades dari Desa Karanglangu yaitu Slamet Agus dengan sambutan suka cita.
Dari tempat itu rombongan bergerak kerumah Kades H.Mahfud yang berjarak 200meter dari sungai. Segala hal berkenan dengan prosesi itu, akhirnya dijelaskan secara gambling oleh pranata adicara(pembawa acara). Ketika arak-arakan singgah dikediaman Kades Ngombak.
Prosesi ini tak lain untuk mengenang Kedhana (kakak) dan Kedhini (adik). Sebagai cikal bakal desa tempat tinggal mereka. Keduanya adalah kakak beradik yang sempat hidup dalam keprihatinan setelah diusir dari rumah.
Mereka sempat berpisah, meski akhirnya dipertemukan kembali ketika memasuki usia dewasa. Kedhana ketika itu telah berhasil mendidikan Desa Karanglangu, sementara Kedhini bersusah payah membangun Desa Ngombak.
Disuatu hari Kedhana dan Kedhini bertemu, disaat bertemu mereka berdua saling jatuh cinta. Mereka berdua juga tidak sadar bahwa mereka berdua adalah saudara kandung. Sangat lamanya tidak bertemu membuat mereka berdua saling jatuh cinta.Hari demi hari mereka jalani,dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah.Namun sebelum pernikahan Kedhana merasa ada yang aneh pada
diri calon istrinya itu.Kedhana melihat tanda luka ditubuh Kedhini yang mirip dengan luka adiknya semasa kecil. Keanehan itu pula akhitnya membuka tabir rahasia sebagai kakak beradik.
Perkawinan itupun batal, Kedhana (Karanglangu) dan Kedhini (Ngombak) sampai sekarang kedua desa tersebut tidak pernah ada pernikahan,dimanapun tempatnya warga Karanglangu bila berjumpa dengan warga Ngombak perasaan kekeluargaan tetap terjaga.
Dan prosesi budaya Asrah Batin yang diselenggarakan oleh Desa Karanglangu dan Desa Ngombak terus dilestarikan anak cucu dari waktu kewaktu dan adapula diiringi Gending Kebo Giro, Kades dari Karanglangu Slamet Agus mewakili sesosok Kedhana dan dipertemukan dengan Kades Desa Ngombak H.Mahfud yang mewakili figure kedhini dalam sebuah prosesi memperingati rencana perkawinan Kedhana dan Kedhini yang akhirnya batal diselenggarakan.
Dipingir sungai itu juga pernah ada yang menyelengarakan pernikahan.
Anda mungkin pernah menyaksikan nikah tamasya atau menikah dilaut dengan segala kemewahanya. Pesta semacam itu digelar warga Grobogan ,Jawa Tengah. Bukan dilaut, melainkan di pinggir sugai yang membentang dua desa. Rakit yang menyusuri Sungai Tuntang,Grobogan,menbawa pengantin pria ke tepian. Di desa seberang, ratusan warga dan mempelai wanita menunggu.Setelah keluarga pengantin bertemu, pesta pun segera dimulai .Acara pengantin sungai ini sebenarnya peringatan ritual asrah batin yang sudah dilakukan selama puluhan tahun. Sebuah ritual untuk memperingati “terjadinya” Desa Karanglangu dan Desa Ngombak. Puncak perhelatan tersebut ialah rebutan nasi bungkus. Sontak ribuan undangan yang disuguhi nasi dengan beragam lauk pauk makin antusias.
Orang yang melakukan pernikahan ditempat tersebut bukanlah warga dari Desa Karanglangu dan Desa Ngombak,melainkan dari desa lain yang termotivasi untuk melakukan pernikahan didaerah tersebut.
CERITA MITOS DARI WARGA NGOMBAK
Dan juga saya mewawancari seorang warga Ngombak yang bertinggal didusun Kedoan orang tersebut bernama Bapak Sutoyo dan istrinya yang bernama Sujinah serta mempunyai 4 anak laki-laki. Bapak Sutoyo menceritakan sebuah mitos yan berkaitan dengan asrah batin, “ Bapak Sutoyo menceritakan,saudara kandung dari istrinya mempunyai anak laki-laki yang bertinggal di Desa Ngombak juga dan anak laki-laki tersebut ingin menikah dengan gadis yang berasal dari Desa Karanglangu.Sebelumnya orangtua dari laki-laki tersebut sudah mencegah agar tidak menikah dengan gadis Desa Karanglangu. Tetapi laki-laki tersebut tidak mau menuruti pembicaraan orangtuanya tersebut.Kemudain pernikahan itu pun terjadi,dan setelah pernikahan itulah ibu dari anak laki-laki tersebut meninggal, akibat terkena tulah dari pernikahan yang batal terjadi pada Kedhana dan Kedhini,karena Kedhana yang bertempat di Desa Karanglangu dan Kedhini yang bertempat di Desa Ngombak adalah saudara.”
KESIMPULAN
Berdasarkan dari cerita diatas.Asrah Batin merupakan ritual yang sacral yang merupakan turun temurun antara dua desa yaitu Desa Karanglangu dan Desa Ngombak.Prosesi ini tak lain untuk mengenang Kedhana Kedhini sebagai cikal bakal desa tempat tinggal mereka,mereka berdua yang pernah saling jatuh cinta dan akhirnya mau menikah namun batal karena Kedhana melihat luka ditubuh calon istrinya yang menyerupai lika pada adiknya semasa kecil.
REFERENSI
Hasil wawancara dari bapak Sutoyo warga Ngombak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar